OPINI

Detail Opini Guru

Suka Duka di Balik Pandemi

Kamis, 3 April 2025 13:09 WIB
446 |   -

Pada tanggal 30 Desember 2020, WHO (World Health Organization) secara resmi mendeklarasikan COVID-19 (Corona Virus Disease 2019) sebagai darurat kesehatan masyarakat secara global (global public health emergency). COVID-19 merupakan virus penyakit baru yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia. Manusia yang terjangkit virus ini memiliki gejala ringan seperti pilek, sakit tenggorokan, batuk, demam, dan kepala pusing. Gejala lain yang lebih serius yaitu pneumonia atau sesak napas, bahkan dalam beberapa kasus, virus ini dapat menyebabkan kematian.

Seperti masyarakat pada umumnya, mungkin kita juga sempat tidak percaya virus yang awalnya ditemukan di Wuhan, China ini akan sampai pada hadapan kita dan mengubah pola kehidupan kita secara drastis, setidaknya dalam dua bulan terakhir ini. Pada 15 Maret lalu, Bupati Bojonegoro, Hj. Anna Mu’awanah mengeluarkan surat edaran resmi menanggapi wabah pandemi tersebut. Surat edaran tersebut berisi perintah kepada seluruh warganya untuk tetap berada di rumah saja. Kerja dari rumah, ibadah di rumah, serta belajar di rumah. Hal ini dilakukan untuk menghambat penyebaran COVID-19. Tentu hal tersebut akan berdampak masif terhadap pola kehidupan sehari-hari masyarakat Bojonegoro yang mayoritas harus beraktivitas di luar rumah, terutama pada sektor pendidikan. Benar saja, sejak 16 Maret lalu, kegiatan belajar mengajar ditiadakan di sekolah dan harus dilakukan di rumah dengan menggunakan metode pembelajaran daring. Hal tersebut juga berlaku bagi seluruh anggota keluarga besar SMA Negeri 1 Kalitidu, Bojonegoro.

Pada awalnya, siswa tentu menyambut berita ini dengan gembira, karena pada saat hari biasa (belajar di sekolah), mereka sering mengeluh bosan terhadap kegiatan belajar mengajar. Ingin libur saja. Namun rupanya hal tersebut malah tidak sesuai dengan ekspektasi mereka. Belajar di rumah yang dalam bayangan mereka akan terasa sangat menyenangkan ternyata malah menjadi lebih membosankan dari pada belajar di sekolah karena beberapa faktor seperti terlalu banyak tugas, merasa kesepian karena tidak bisa berkumpul dengan teman belajar, dan lain-lain. Beberapa siswa juga mengeluh mengenai faktor teknis seperti kurangnya fasilitas (gawai, pulsa, maupun internet) untuk mengikuti proses pembelajaran sehingga tertinggal oleh teman-temannya yang memiliki fasilitas pembelajaran lebih baik.

Handphone saya tidak memadai Pak.”,

“Tidak bisa mengirim tugas lewat Google Classroom Pak, lewat Whatsapp ae yo?

“Tugasnya kok banyak sekali to Pak? Mumet aku. Malah lebih enak belajar di sekolah saja kalau begini Pak.”

“Bosan Pak di rumah terus, kangen sekolah.”,

“Kangen eseman e dek e Pak, hehe.”, dan lain sebagainya.

Dampak dari wabah pandemi ini tentu juga dirasakan oleh para guru. Pertama, tentu keluhan-keluhan dari para siswa tadi menyebabkan dilema moral bagi mereka. Di satu sisi mereka merasa iba karena banyak siswa yang mengeluh terlalu banyak tugas, di sisi lain mereka tetap harus memberi tugas supaya kegiatan belajar mengajar tetap berjalan. Para guru juga merasakan hal yang sama. Kedua, mereka pasti merasa sangat teralienasi dari tugas utamanya, dari kodratnya sebagai pendidik yang harus berhadapan secara langsung dengan anak didik mereka. Dengan kata lain, wabah pandemi ini membuat guru dan siswa menjadi terasing satu sama lain dalam kegiatan belajar mengajar.

Di luar duka dan kesusahan yang banyak timbul akibat wabah pandemi COVID-19 ini, ternyata ada fenomena menarik lain yang bisa dibilang merupakan hikmah dari wabah tersebut, seperti gaungan nature is healing, we are the virus(?) yang merebak secara global entah itu di televisi maupun sosial media. Benar saja, di balik kengerian dan teror yang ditimbulkannya, ternyata wabah bencana COVID-19 ini juga cukup memberi dampak yang baik pada bumi. Tidak usah terlalu jauh melihat ke kanal Venesia di Italia yang mendadak menjadi jernih dan bening setelah aktivitas lalu lintas kapal sepi serta wisatawan berkurang, atau jalanan New York, Amerika Serikat yang mendadak menjadi asri karena sepinya aktivitas manusia dan berkurangnya sampah, kita bisa melihat perubahan-perubahan kecil yang berarti baik di sekitar kita, seperti berkurangnya polusi udara karena aktivitas kendaraan yang menurun. Mungkin memang benar, wabah COVID-19 ini merupakan cara alam untuk merespon tindakan-tindakan eksploitasi besar-besaran terhadapnya yang dilakukan oleh manusia selama ini. Selain itu, kita juga bisa melihat hikmah lain. Katakanlah, kebiasaan-kebiasaan hidup bersih dan sehat yang sudah lama ditinggalkan manusia kini mulai diterapkan kembali, atau keharmonisan keluarga yang mulai memudar karena kita jarang di rumah kini bisa terjalin kembali.

Kendati demikian, COVID-19 adalah virus penyakit yang masih sangat baru, di mana penelitian dan kajian ilmiah terkait virus ini masih sangat sedikit. Belum ditemukan obat dan vaksin khusus untuk melawan virus ini. Jadi masih belum bisa dipastikan kapan wabah pandemi ini akan berakhir. Mari senantiasa berdoa dan bergotong royong dalam melawan wabah pandemi ini. Tetap laksanakan instruksi dari pemerintah, tetap jaga jarak dengan siapa pun, selalu mencuci tangan setelah memegang benda apa pun, selalu memakai masker jika mendesak harus keluar rumah, menjaga imunitas tubuh dengan menerapkan pola hidup yang sehat dan bersih, rajin berolahraga dan makan makanan bergizi. Jangan lupa untuk segera memeriksakan diri ke dokter jika merasa mengalami gejala-gejala penyakit yang ditimbulkan virus ini.

Semoga wabah pandemi COVID-19 ini segera berlalu! (Habib)

 

Informasi tambahan: Telah tersedia situs dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk melacak keberadaan penderita positif COVID-19 di sekitar kita yaitu radarcovid19.jatimprov.go.id


Komentar

×
Berhasil membuat Komentar
×
Komentar anda masih dalam tahap moderator
1000
Karakter tersisa
Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini