Bahasa Indonesia Pelita Generasi Emas
Ika Zuliana-SMA Negeri 1 Kalitidu
“Bahasa menunjukkan jiwa bangsa”, ini merupakan bunyi pepatah lama. Lalu mengapa kita harus gengsi dengan bahasa kita sendiri? Perlu kita ketahui, beberapa Perguruan Tinggi di luar negeri sudah tidak asing lagi dengan bahasa Indonesia. Mereka memakainya sebagai bahasa sehari-hari, terutama di negara Australia. Fakta yang mencengangkan lainnya, bahasa Indonesia ternyata masuk dalam 10 besar bahasa yang paling banyak dipakai di dunia. Namun, masih banyak masyarakat Indonesia yang minder dengan bahasa kita sendiri. Masih beranggapan ‘bahasa kita kan kurang beken?’ atau segudang alasan lainnya yang menurut mereka bahasa kita akan menjadi bahasa internasional masih terdengar seperti ‘mitos’ di telinga mereka.
Masih ragukah dengan bahasa kita sendiri? Beberapa fakta mengejutkan ini akan membuat rasa percaya diri kita bertambah. Di negara kawasan ASEAN bahasa Indonesia juga dapat kita temui dan lazim digunakan untuk masyarakat di negara seperti Malaysia, Brunei, dan kawasan Filipina bagian selatan. Tak hanya itu, di Vietnam bahasa kita telah menjadi bahasa yang diprioritaskan, terutama dalam bidang study. Bahkan di Mesir, Jepang, dan Benua Afrika juga terdapat pusat study bahasa Indonesia.
Menurut sumber, wikipedia Indonesia berada di peringkat 26 dari 250 bahasa asing, di Asia sendiri kita masuk dalam peringkat 3. Terbukti bukan, bahasa kita yang mudah dipahami telah begitu banyak digunakan di negara-negara asing. Bukan halangan lagi bagi kita untuk menjadikan bahasa Indonesia menuju kancah internasional. Peluang bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional kian mendukung seiring dengan begitu banyaknya dukungan dari negara-negara yang telah menerapkan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang wajib bagi mereka.
Selain itu pada saat ini gempa literasi tengah mewabah menjadi virus positif pada masyarakat. Literasi baca tulis, literasi media, literasi sastra, dan lain sebagainya, seolah kembali muncul sebagai pelita generasi emas Indonesia. Tentu saja jika hal ini terus dipupuk, tidak menutup kemungkinan bahasa Indonesia akan menjadi bahasa yang digunakan secara internasional. Dengan demikian, peningkatan strata membuat bangsa kita dianggap lebih unggul dan maju.
Bahasa Indonesia telah dipelajari dan digunakan lebih dari 40 negara di dunia. Seperti halnya negara Jepang, Ukraina, Korea Selatan, dan Australia. Di negara ini bahkan bahasa Indonesia menjadi salah satu study yang paling banyak diminati. Penggunaan bahasa kita yang dapat dikatakan lebih mudah tanpa harus menghafalkan berbagai bentuk tenses dan beberapa aturan yang begitu rumit.
Wisatawan dari mancanegara yang beranggapan bahwa penduduk kita ramah juga membuat mereka begitu penasaran dengan bahasa kita. Lagi, di salah satu perguruan tinggi di Australia bahasa Indonesia juga telah diterapkan. Tak heran jika kita berkunjung ke sana dan menemukan masyarakat di sana yang bahkan sudah fasih berbicara dalam bahasa Indonesia. Tak perlu jauh menerawang ke luar negeri. Di salah satu Universitas ternama di Indonesia, yaitu Unesa (Universitas Negeri Surabaya) telah dibuka progam BIPA yaitu kepanjangan dari Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing. Saat anak negeri berbondong-bondong mencari beasiswa untuk menimba ilmu di luar negeri. Begitu juga halnya mereka mahasiswa yang tinggal di luar negeri ingin mempelajari lebih dalam tentang bahasa Indonesia. Pengertian BIPA sendiri ialah program pembelajaran keterampilan berbahasa Indonesia mulai dari berbicara, menulis, membaca, dan mendengarkan bagi penutur asing.
Beberapa tahun ini Unesa telah menerima mahasiswa BIPA dari berbagai negara seperti Tiongkok, Korea, Jepang, Pakistan, Thailand, Kamboja, Philiphina, dan masih banyak lagi. Antusias para pelajar asing ini menumbuhkan sikap kebanggaan tersendiri bagi kita sebagai pemilik bahasa Indonesia.
Lalu bagaimana dengan permasalahan kosakata dalam bahasa Indonesia yang terbilang lebih sedikit? Hal ini tidak perlu dikhawatirkan. Pada era globalisasi saat ini, terlebih media sosial tengah menjadi sorotan publik. Akan berdampak positf bagi kosakata bahasa Indonesia. Buktinya 17 kosakata baru, belakangan ini masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Seperti swafoto ‘selfi’, gawai ‘gadget’, dan daring ‘online’.
Perubahan ke arah yang lebih baik akan muncul, dan semua itu bergantung pada diri kita sendiri. Bahasa Indonesia telah diterima di berbagai negara, berpuluh-puluh tahun ke depan bahasa Indonesia yang bersifat dinamis akan terus berkembang dan menginspirasi generasi emas Indonesia.
Komentar
Jadilah yang pertama berkomentar di sini