OPINI

Detail Opini Siswa

Budaya Indonesia Dikepung Globalisasi

Kamis, 3 April 2025 13:11 WIB
93 |   -

Sinta Ayu Kurniawati

 

            Kebudayaan menurut Edward B. Taylor didefinisikan sebagai kompleksitas yang meliputi kepercayaan, seni, moral, hukum, adat-istiadat, dan segala bentuk kehidupan dari anggota masyarakat. Kata kebudayaan sendiri berasal dari kata sansekerta buddhayah, ialah bentuk jamak dari kata “budi” atau “akal”. Bisa diartikan pula kebudayaan ialah hal bersangkutan dengan budi dan akal.

Indonesia sendiri terdiri dari berbagai macam suku, budaya, dan beragam bahasa yang dimiliknya. Dari jumlah pulaunya, Indonesia sendiri memiliki 17.504 pulau dan yang dinilai valid baru 13.466 pulau. Ragam bahasa Indonesia banyak, terbukti dengan jumlah bahasa yang ada di Indonesia berjumlah 1.340 bahasa. Ragam-ragam budaya yang ada di Indonesia sendiri dipengaruhi oleh adat istiadat setempat, faktor agama, faktor lingkungan, faktor kebiasaan, dan tentu saja suku atau masyarakat setempat. Dengan adanya beragam suku tentu banyak sekali adat yang ada di indonesia.

Pertanyaannya, bagaimana nasib budaya-budaya tersebut? Apakah masih ada atau telah punah? Jawabannya bergantung diri kita sendiri. Budaya-budaya yang ada di Indonesia telah ada sejak zaman nenek moyang, kebanyakan budaya-budaya di indonesia memiliki kandungan nilai religius. Orang zaman dulu sangat memegang teguh prinsip mereka. Mereka benar-benar menjaga kebudayaan itu erat. Lalu bagaimana dengan kita? Apa kita akan diam saja dengan budaya kita sedangkan kita berdiam diri dan menikmati gerusan arus globalisasi.

Terlihat miris memang, sebagian orang di sudut Indonesia tetap kokoh mempertahankan budaya, sedangkan mereka yang berada di tengah dengan mudahnya tergerus arus globalisasi. Mungkin ini yang disebut kita hampir kehilangan jati diri kita sebagai bangsa Indonesia. Jadi, cara kita mempertahankan budaya kita ditengah gerusan arus globalisasi ini. Pancasila adalah ketetapan yang telah mengandung nilai-nilai luhur dan kemaslahatan bangsa Indonesia.

Lalu apakah kita tidak boleh mengikuti arus globalisasi? Tentu saja boleh, akan tetapi kita harus menggunakan filter berupa pancasila tadi. Dengan begitu kita bisa menyaring nilai positif dari globalisasi, jika kita memaksa diri kita tidak mengikuti arus globalisasi. Negara kita akan terasingkan, negara kita mungkin tidak akan dikenal seperti ini. Jadi, pada intinya kita harus tetap memegang teguh budaya di Indonesia meski harus melewati arus globalisasi. Seperti yang dituturkan oleh Handi Kurniawan dalam pembukaan buku Go Global, “Bangun kualifikasi internasional, kembangkan pola pikir global, dan raih kesuksesan tanpa meninggalkan akar budaya anda.” Dari sini, dapat disimpulkan bahwa jati diri seorang bergantung bagaimana cara seseorang itu dalam menyikapi budayanya sendiri.

Pelestarian budaya ialah suatu proses atau teknik yang  didasarkan pada kebutuhan individu itu sendiri. Jadi, kita tetap mempertahankan budaya dengan nilai-nilai globalisasi yang sudah tersaring melalui pancasila tersebut. Upaya yang dapat dilakukan untuk melestarikan budaya ialah, kita setidaknya mengetahui kebudayaan yang ada di daerah kita masing-masing, dan membiasakan hal-hal atau kegiatan yang dapat melestarikan budaya itu sendiri.

Misalnya tayuban, satu pertunjukan budaya dari jawa timur dan tengah ini memiliki nilai buruk di massa lalu. Sinden memperoleh uang mereka dengan cara ‘nakal’, lelaki akan memberikan uangnya dengan cara menggoda. Apalagi pakaian sinden zaman dulu masih menggunakan kemben. Kita tetap bisa melestarikan gending-gending dari tayuban tersebut, kita modifikasi dengan nilai-nilai yang telah berkembang sekarang. Kita ubah dari penampilan sinden yang terlihat nakal menjadi lebih sopan dan santun dilihat mata. Meski terjadi perubahan dalam budaya, namun perubahan itu berdampak baik bagi budaya itu sendiri. Jika kita ingin memodifikasi suatu budaya tanpa memikirkan nilai-nilai apa yang akan disampaikan menjadikan budaya kita dipandang sebelah mata, bahkan oleh bangsa kita sendiri.

Bukankah miris saat banyak konser artis luar negeri dan pertunjukkan wayang kulit digelar bersamaan, para remaja lebih condong ke konser artis luar negeri dan mirisnya sedikit sekali yang mendatangi pertunjukkan wayang kulit. Kita tidak bisa mengubah budaya menggunakan karakter remaja saat ini. Yang diperlukan, bagaimana caranya agar remaja menyukai budaya sendiri meski dikepung arus globalisasi.

Solusi yang dapat digunakan dalam permasalahan wayang kulit adalah, tetap menggunakan bahasa jawa, namun yang tidak bahasa jawa tingkat berat dan membuatnya lebih ceria. Misalnya pertunjukkan wayang kulit duku-dulu menggunakan gaya bahasa jawa yang berat dan dalang menggunakan suara yang terdengar berat dan mengayun, membuat pendengar terdengar mengantuk jika untuk ukuran remaja zaman now terlebih jika pertunjukkan wayang di gelar malam hari.

Dengan mengganti gaya bahasa dalam pendalangan agar terlihat menarik dalam pandangan remaja, dan menggunakan tema perwayangan dengan kejadian sehari-hari agar remaja dapat menangkap amanat dar pertunjukkan wayang, karena biasanya pertunjukkan wayang menggunakan tema masa lampau yang bahkan anak muda zaman kini tidak mengetahuinya. Alangkah baiknya jika menggunakan tema kehidupan sehari-hari, dan terkesan tidak membosankan, jika menggunakan tema massa lampau banyak cerita dalam perwayangan yang bahkan diulang berkali-kali. Karakter anak muda zaman sekarang cenderung mudah bosan, karena itu jika menggunakan temas keseharian, dalam dapat mengaplikasinya dengan beberapa candaan yang digunakan dalam pertunjukkan wayang agar membangkitkan semangat remaja dalam menonton pertunjukkan wayang.

            Pada dasarnya tidak hanya budaya yang dilampirkan di atas saja yang harus dilestarikan, namun keseluruhan budaya yang ada di nusantara. Dikutip dari http://badanbahasa.kemendikbud.go.id/lamanbahasa/artikel salah satu kota yang sudah menanamkan upaya menjaga sebuah tradisi lokal yakni kota Solo, di kota Solo sudah membudayakan beberapa tradisi yang sampai saat ini masih dilakukan. Salah satunya lewat jalur pendidikan, setiap hari kamis pelajar di Solo wajib mengenakan pakaian adatnya. Hal ini merupakan wujud cinta budaya dalam rangka melestarikan pelestarian budaya Indonesia. Dengan demikian rasa cinta terhadap budaya akan tumbuh dan budaya itu sendiri akan menjadi cerminan kita dalam hidup berglobalisasi.

            Karakter bangsa merupakan cerminan budaya, dan langkah yang harus kita ambil harusnya tetap melestarikan dan mempertahankan budaya setempat meskipun harus ada modifikasi tertentu yang menambah nilai positif dalam budaya tersebut. Jika tidak demikian, oenerus bangsa akan terus melupakan jati dirinya, perjuangan pahkawannya, dan mereka bisa lupa sebenarnya siapa mereka. Budaya di sini tidak hanya ditujukan untuk pelestarian semata namun juga berperan dalam meningkatkan nilai-nilai luhur penerus bangsa yang mulai terkikis oleh arus globalisasi yang ada. Tanpa budaya bangsa Indonesia tidak memiliki identitas dan ciri dalam suatu arus globalisasi. Bangsa yang maju ialah bangsa yang bangga dengan jati dirinya sendiri dan tidak malu dengan masa lalu yang pernah nenek moyangnya alami.

 

Daftar Pustaka

https://lidamaulida.wordpress.com di akses pada hari Senin, 10 Maret 2019

https://subhanagun.blogspot.com di akses pada hari Senin, 10 Maret 2019

Ismail, D.S Moeljanto Taufiq. 1998. Budaya. Jakarta: PT Mizan Pustaka dan HU Republika

Kuniawan, Handi, 2014. Go Global. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama


Komentar

×
Berhasil membuat Komentar
×
Komentar anda masih dalam tahap moderator
1000
Karakter tersisa
Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini