OPINI

Detail Opini Siswa

CERPEN

Jumat, 4 April 2025 03:44 WIB
182 |   -

Aku Memanggilnya, Kadim.

            Kemarin, tepat dua tahun yang lalu aku resmi menyandang pangkat S.Pd, disusul pula dengan kawan-kawan seperjuanganku. Aku mengakui agak lebay memang, namun menyelesaikan sidang skripsi membuat 80% hidupmu lebih ringan. Kamu tidak akan merasakan indahnya jatuh cinta pada saat sidang skripsi berlangsung, karena aku sudah merasakannya. Sidang skripsiku sangat dramatis, bagaimana tidak sempat-sempatnya Anita, pacarku saat itu meminta putus saat aku tengah mengadakan sidang skripsi, dan mau tidak mau aku harus menyetujuinya. Meski begitu, aku benar-benar tidak merasakan apa itu yang namanya patah hati, satu hal yang terus terpikir di otakku, akankah aku lulus dengan sidangku kali ini atau tidak.

Sebelumnya perkenalkan aku Rian Hasan, kelahiran Jakarta asli pada tanggal 9 Maret, 25 tahun yang lalu. Aku juga ingin memperkenalkan beberapa rekan yang sempat kusebut tadi. Kawanku satu ini patut disebut pangeran Solo, ya tanah jawanya sangat kental seakan-akan dalam darahnya telah tertera bahwa ia punya sample asli wong Solo, namanya Setyo Purnomo. Kami kerap memanggilnya dengan sebutan kesayangan yakni Yoyo bukan karena maksud tertentu, tapi memang panggilan Yoyo terdengar menggemaskan, sesuai dengan image-nya yang baby face. Setelahnya, adalagi kawanku yang tak kalah menarik, dengan proporsi tinggi yang kurang, warna kulit eksotis, hidung mancung, dan sepasang mata belong membuat siapapun yang melihat Zhul akan bisa menebak, dia asli daerah mana. Ciri fisik yang spesifik dan dengan logat bataknya yang khas, Zhul menjadi trending topic mahasiswi kala itu. Bahkan ia sempat ditembak tiga sekaligus wanita, tapi nyatanya itu hanya halusinasinya. Haha. Nama lengkapnya Ahmad Zhulfikar, asli batak, tipe ceweknya fisik tak masalah asal dikau setia, mood maker di gengku, keturunan speaker masjid, karena Zhul kalau bicara suaranya keras. Setelah dua kawan yang telah kukenalkan, masih ada satu lagi. Dia satu-satunya yang paling famous di antara gengku ini. Meski keturunan Kalimantan-Jawa, nyatanya muka dia cenderung mirip bule, aneh ya. Dia Rizki Ramadian. Pinter, cakep, ramah, dan suka gila kalau udah main game. Dia satu-satunya yang paling waras di antara kita, kecuali kalau main game.

Kalian tak penasarankah, bagaimana mulanya kami bisa berteman? Mungkin ini terdengar berlebihan. Tapi kami, rasanya bukan seperti teman lagi, kami sudah merasa bahwa kami ini keluarga. Meski dulunya kami asing, tak saling sapa apalagi senyum satu sama lain, imposible.

Kejadian itu dua tahun yang lalu, di mana aku menemukan hal yang berharga dalam hidup. Sebuah pegalaman yang membuat mataku terbuka lebar. Saat itu, ada sebuah program yang mana kita dituntut untuk bisa mengajar di manapun kita berada, semacam koas tapi sepertinya bukan. Bahkan sampai sekarangpun aku tidak tahu, itu program apa.

Kami diacak, kelompoknya tak terduga.

“Sekarang saya akan memilih siapa saja yang akan bertugas di daerah Sumatera Utara tepatnya di Deli Serdang. Anggota pertama yang saya pilih adalah Ahmad Zhulfikar. Silakan berdiri!

Kulihat beberapa keringat dingin mulai mengalir perlahan dari ubun-ubunku, keputusan dosen ialah mutlak. Mau tidak mau kita harus menurutinya. Kulihat Zhul begitu tenang dan anteng, karena dia tidak ada masalah. Dia orang asli sana.

Untuk mahasiswa selanjutnya, ananda Rizki Ramadhan, silakan bergabung dengan Ahmad Zhulfikar.”

Aku melihat mereka berdua bersalaman, menghapus jejak keasingan di antaranya, lalu mataku memandang ke sekeliling. Aku lihat banyak wanita yang mengepalkan tangan dan berdoa agar bisa satu tim dengan Rizki, tak heran karena dia mahasiswa terganteng seangkatanku, baru saja kemarin mahasiswi mengadakan voting untuk hal itu.

Detak jantungku semakin tidak normal saat dosen akan menyebutkan anggota selanjutnya untuk program di Deli.

“Setyo Purnomo.”

Kulihat orang yang dipanggil maju. Sedangkan aku masih duduk tenang sendirian di pojok ruang sembari menanti namaku, tapi tidak bisa bohong aku sedang tegang. Nilai untuk program ini sangat memengaruhi IPK, jadi tim yang akan bergabung denganku menentukan nilai nantinya.

Terakhir adalah ananda Rian Hasan.

Aku mengerutkan alisku. “Aku harus bergaul dengan orang-orang asing itu? Tuhan apa yang harus aku lakukan?”, tanyaku dalam hati.

Setelah semua kelompok dibentuk, kami satu-satunya tim yang tidak memiliki anggota perempuan dan memiliki anggota paling minim. Aku dengar, dosenku memberi salam saat hendak meninggalkan ruang. Kecanggungan luar biasa mulai mengabut di udara sebelum Yoyo mengawali percakapan kami.

Perkenalkan mas, saya Setyo Purnomo salam kenal.”

Nadanya medok, asli Jawa Tengah. Sedangkan Rizki yang memiliki predikat mahasiwa tertampan memasang wajah kalemnya.

Panggil saja Kiki, sambungnya setelah Setyo menjabat tangan kami satu-persatu.

Sedangkan aku melihat raut bangga yang tergaris jelas lewat celah senyum yang sedari tadi Zhul paparkan.

Perkenalkan namaku Zhulfikar, asli Batak. Semoga kita menjadi rekan tim yang baik.”

Tak usah dijelaskanpun, logatnya benar-benar sudah menandakan bahwa dia orang batak.

Nama kau siapa?” sambung Zhul, aku tersenyum kaku. Memaksa bagian tertentu organ dalamku untuk bekerja secara normal.

“Rian Hasan.” Kenalku singkat. Aku melihat mereka mengangguk.

Kita berangkat kapan yo mas?”

Lusa mungkin, karena juga dadakan. Kemungkinan begitu.”

Kiki masih anteng dengan gawainya, berbeda dengan Setyo yang gelisah sedari tadi.

"Mas kira-kira orang jawa bisa menghormati tidak di sana nantinya?”, tanyanya padaku. Aku bukan orang sana asli, dan aku tidak terlalu mengerti adat istiadat yang ada di sana, termasuk tata kramanya,” lanjutnya.

"Aku juga tidak terlalu tahu Yo, coba tanya sama Zhul," saranku.

Yoyo benar-benar bertanya pada Zhul.

Suasana sedikit mendung ditemani rintik hujan yang perlahan hinggap di sela-sela kesibukkan mahasiswa yang lalu lalang. Perlu kalian ketahui, hari ini adalah hari keberangkatan kami menuju ke Deli. Hampir sepuluh menit aku sudah berada disini, menunggu yang lainnya datang sambil menatap punggung orang-orang yang melewatiku begitu saja. Bau keringat yang begitu menyeruak dan deru roda koper benar-benar menjadi ciri khas bandara. Sengaja memang aku berangkat lebih awal, aku tidak mau dicap tidak tepat waktu di hari pertamaku untuk memulai kerja sama tim.

Pandangan mataku menyupir, menatap Yoyo yang tergesa berkali ke arahku dengan tas besarnya. Setelan kaus hitam dan celana jeans, tentunya dengan sepasang sendal jepit berwarna hijau yang hari-hari ia pakai.

"Maaf mas, aku berangkatnya agak lama tadi kebingungan mau milih baju yang mau dipakai" jelasnya padaku.

Deru napasnya tidak teratur, beberapa butir keringat mengalir di pelipisnya. Cukup membuktikan bahwa memang dia terburu-buru saat menuju ke sini.

"Tidak apa Yo, yang lainnya juga belum datang," terangku.

Wajahnya terkejut, namun kudengar helaan napas lega dari Yoyo yang sekarang mengambil tempat duduk di sampingku. Tak lama, Kiki dan Zhul juga segera tiba, seperti biasanya Kiki mendapat tatapan kekaguman dari banyak nyawa yang berada di bandara, sedangkan Zhul, dia cengar-cengir tidak jelas sedari tadi.

"Maaf lama, tadi jalanan agak macet."

Kiki merapikan setelan kemeja yang dipakainya, dia benar-benar tampak rapi. Rambut gaya kekinian dengan wajah yang seimbang, stylenya yang anak muda banget, juga proporsi tubuhnya yang seiras dengan model. Ku akui ada aura karismatik darinya.

"Nanti kalau di Deli kita nginep di mana ya mas?"

Yoyo membuka pertanyaan di antara kami, posisinya sebagai pemecah keheningan sudah mutlak.

"Kita menginap di rumah warga sajalah, tempat kita mengajar dengan hotel itu jauh sangat. Butuh waktu 3 jam, jika kita memaksa menginap di hotel kota.”

Kami mengobrol cukup lama untuk kali pertama, hingga akhirnya waktu keberangkatan kami telah tiba. Setyo menjadi satu-satunya orang yang paling bersemangat.

"Pertama kaline aku naik pesawat mas, gak sabar aku."

Dia terburu mengikuti jejak Kiki yang telah sepakat menjadi pemimpin di tim kami.

Butuh waktu 2 sampai 3 jam untuk sampai di bandara Aek Gondang, Sumatera Utara. Belum lagi perjalanan kami yang masih membutuhkan waktu 5 jam, menurut Zhul. Kami tidak banyak mengobrol, tidak menunjukkan sisi ramah karena masih asing satu sama lain. Mungkin terlalu lelah saat lepas landas tadi.

Dalam perjalanan menuju Deli Serdang, kami menebeng mobil pick up yang baru saja kembali dari kota untuk menjual beberapa keranjang sayur. Mereka baik, memberikan tumpangan untuk ukuran orang asing seperti kami, kecuali Zhul.

"Mas aku sungkan, aku gak ngerti kebiasaane orang sini," keluh Yoyo.

Dia paling banyak merengek sedari tadi. Aku merasa sedikit risih, karena dia mengeluh padaku yang juga tidak tahu tentang masalah kultur yang dihadapinya. Harusnya dia bertanya pada Zhul, bukan aku.

Kami sampai dengan kondisi tertidur. Orang yang kami tumpangi, terpaksa membangunkan kami. Kami berterimakasih, setelahnya bergegas mencari rumah warga yang dengan senang hati menerima kami. Tak butuh waktu lama, Zhul sudah menemukan rumah singgah yang siap menerima kami di sana.

"Istirahat dulu, besok barulah kalian pergi mengajar dik," tutur ibu itu. Baru ku ketahui namanya Sri. Beliau tinggal bertiga di rumah singgah yang cukup besar. Ia tinggal bersama suami dan anaknya, kudengar anaknya perempuan. Zhul yang sedang cari jodoh langsung menanggapinya.

"Memang anak ibu sekarang di mana?" tanyanya sembari memasukkan beberapa potong jajanan yang telah ibu Sri suguhkan.

"Dia masih bekerjalah, anak ibu cantik kok. Zhul kau asli sinikah?"

Zhul mengangguk malu. Prasangkanya sedang baik.

Untuk kedua kalinya kami berbincang cukup lama, ditemani bu Sri yang baru saja menyambut kedatangan suaminya. Obrolan kami semakin intens dan menyenangkan. Ditambah beberapa camilan khas sini membuat suasana asing hilang untuk beberapa waktu.

"4 serangkai semangat!", slogan kami mulai riuh dikumandangkan.

Kami memberi nama tim kami, 4 serangkai karena memang kehabisan ide. Mulanya semua ini adalah idenya si Zhul.

"Kita ini perlu nama biar bisa semakin akrab."

Setelah cukup lama hening kali ini Zhul yang angkat bicara. Lampu redup kamar kami memberikan pengetahuan minim bagaimana wajah Zhul saat berbicara, dia terkenal ekspresif.

"Betul juga si Zhul, bagaimana kalau kita beri nama kelompok kita Kumpulan Organ,” Kiki menyahut, tumben sekali dia. Biasanya mulutnya digembok rapat-rapat.

"Apaan tuh?" Aku penasaran.

"Kumpulan orang-orang ganteng."

Entah kenapa kami tergelitik dengan kalimat Kiki barusan. Rasanya aneh, mentang-mentang dia mahasiswa paling tampan sengakatanku, dia jadi semena-mena masalah kegantengan.

"Iya mas Kiki sama mas Rian cocok, kalian berdua ganteng. Lah, aku sama si Zhul ya tidak cocok to mas, kita ini mukanya pas-pasan." Yoyo berkecil hati, tapi Kiki makin besar kepala.

"Benar juga sih, terus apa?" Kiki banyak bicara hari ini.

"Aku ini setuju-setuju sajalah, kita kan sebenarnya sama-sama orang ganteng. Cuma aku sama si Yoyo ini menutupi kegantengan kita berdua."

Malam itu tawa semakin riuh, semakin larut kami dalam tawa. Kali pertama, aku merasakan nyaman dan sehangat ini.

"Lalu apa nama yang cocok?" Kiki kembali bertanya.

"4 serangkai, bagaimana?" usulku. Lalu kuperhatikan raut wajah mereka tersenyum.

"Boleh juga, biar sama seperti tokoh-tokoh zaman dulu ya. Kita orang jadi pemotivasi yang baik untuk anak-anak."

Kami tersenyum, setelahnya kami tertawa.

Fajar telah meraung-raung. Memaksa kami membuka mata di tengah kabut embun yang masih remaja. Bagaimanapun aku harus bangun, untuk menunaikan sembahyang subuhku.

"Ki, Zhul, Yo bangun. Sembahyang dulu." Aku mengelus mereka sembari menyibak selimut-selimut hangat yang dipakai mereka semalaman.

Butuh 45 menit untuk sampai di sekolahan, mata Zhul masih mengantuk. Aku tidak pernah melihat Kiki menjadi jelek, meskipun dia bangun tidur ku akui dia masih saja tampan.

"Nah kita sudah sampai."

Zhul riang, kami semua mulai tenang. Perjalanan kaki membuat kami lelah. Kami memutuskan beristirahat sebentar, memilih untuk minum. Air mengalir membasahi kerongkonganku yang tadinya tercekik haus. Aku melihat senyum kecil-kecil setelah kami memutuskan istirahat sejenak tadi.

"Hari pertama penuh kejutan," ocehku. Lalu disusul tawa ringan dari kawan-kawanku.

"Masih banyak kejutan yang menunggu di dalam sana," sambung Kiki.

***

Hari itu jendela-jendela rumah mulai terketuk tetesan air embun yang semalaman menginap di luar rumah. Aku mendapati foto 4 serangkai terpajang jelas di meja samping ranjangku. Suasana rumahku sepi, tidak seramah grup chat yang menemaniku seharian. Aku melirik jam dinding yang terus berdetak sedari tadi, membayangkan apa aktivitas yang dilakukan kawan-kawanku di rumah mereka masing-masing.

Aku mendengar kabar bahwa Zhul akan segera menikah, dengan anaknya bu Sri. Jodoh memang mustahil untuk ditebak. Pernikahan dan resepsi diadakan menurut adat Batak dan dilaksanakan di kediaman ibu Sri. Entah kenapa gerimis mulai merangkak hinggap di atap-atap rumah mengubur kembali semangat pagiku.

Huh, aku sedikit kesal dengan hujan. Jika hujan turun, aku akan merindukan mereka. Sedangkan mereka tengah merangkul rumah mereka masing-masing. Entah kenapa kenangan itu masih saja hinggap di kerangka otakku, hingga kini.

***

Kesan pertama kami cukup buruk. Ruang kelasnya tak layak pakai, siswanya masih kurang tanggap, dan berbagai keluhan lain yang tidak bisa ku utarakan di cerita ini, terlalu panjang. Sebagai tetua suku di gengku ini, Zhul mengawali perkenalan kami. Semua siswa dapat memahami dia dengan sangat baik. Mungkin karena masih satu rumpun.

"Adik-adik, ini kakak pengajar dari Jakarta. Selama satu bulan ke depan, kita akan mengajar kalian semua. Jadi mohon nanti adik-adik jangan nakal ya."

"Ya!" jawab murid serempak, kami tersenyum.

Kami membagi tugas, aku bertugas untuk mengajar bahasa Indonesia, Zhul sebagai ahli matematika kami, Kiki sebagai guru bahasa Inggris, dan Yoyo guru kesenian. Kami telah mengonfirmasi dan guru-gurupun telah sepakat.

Hari-hari mengajar kami diwarnai dengan kelamnya pendidikan anak bangsa di pelosok. Rata-rata siswa kelas 2 SD masih bingung dengan cara perkalian, bingung dengan kaidah bahasa Indonesia yang benar, minim sekali pengetahuan bahasa Inggris, dan cenderung senang dalam pejalaran kesenian karena Yoyo mengajari mereka dengan cara bermain yang seru. Ia mencoba mengolaborasikan permainan masa kecilnya di Solo dengan anak-anak Deli Serdang, nyatanya mereka menyukainya.

Hampir seminggu, anak-anak semakin akrab dengan kami. Begitupun dengan penduduknya. Bahkan kami menyayangi mereka layaknya murid sendiri.

"Ternyata jadi pendidik itu enak ya mas, rasanya aku bisa turut andil mencerdaskan bangsa ini."

"Setuju kali aku sama kau, meskipun kita ini berbeda. Kau suka dangdut aku suka klasik, ras kita beda nyatanya kita masih bisa jadi 4 serangkai. Betul tak?"

Hari itu aku sadar, perbedaan yang menyatukan kami. Asing yang membuat kami makin rekat. Kini kami bahkan dekat layaknya darah yang mengisi tubuh, kami berebut bagian untuk andil dalam persatuan.

"Besok bagaimana jika kita kasih itu adik-adik permainan saja? Biar tak bosanlah dia," usul Zhul yang idenya entah muncul darimana.

"Aku setuju sama kamu Zhul, bagaimana kalau kita isi pakai permainan-permainan daerah asal kita. Mereka bisa kenal dengan budaya bangsanya? Masuk akal kan?" Kiki menyahut, meski tangannya tak luput dari gawaianya yang tengah menampilkan laga perang dalam sebuah game.

"Kau bagaimana San? Dari kemarin ku tengok kau tak bicara banyak. Ada masalah kau?"

Aku menggeleng sembari memberikan senyum, entah kenapa aku menjadi sangat introvert saat ini.

Rembulan telah tenggelam, ia di rangkul hangatnya mentari dari ufuk timur. Aku melihat Zhul sudah siap pagi-pagi sekali. Disusul dengan Kiki juga Yoyo di belakangnya.

"Tumben sudah bangun?" tanyaku. Mereka nyengir. Semangat membawanya sampai hingga gendang telingaku.

"Kita semangat buat mengajar hari ini mas, sudah seminggu kita harus memberikan sesuatu yang berbeda," lanjut Yoyo sembari membenarkan pakaian rapinya.

Kali pertama, aku melihat Yoyo berpenampilan layaknya manusia normal.

"Iya, ayo berangkat, keburu siang nanti!" Kiki memimpin perjalanan kami seperti biasa.

Setelah kami berpamitan kepada bu Sri, selaku pemilik rumah. Oh, pasti kalian penasaran dengan anaknya bu Sri. Namanya Zahra, Az-Zahra Maulid. Cantik, ada himpunan lesung pipit di kedua pipi gembulnya, mata beling, dan tentunya kulit putih. Lelaki yang bereaksi paling parah tentunya Zhul. Setelah seumur hidup menjomblo, dia menemukan wanita yang sesuai dengan kriterianya. Baik akhlak, terlihat setia, apalagi seadat.

"Kalau aku mau cari calon istri, aku ingin kali si Zahra. Meski aku kuliah di kota, ibu bapak aku tidak setuju jika aku beristri dengan orang yang beda adat. Padahal anak Jakarta cantiknya pun lumayan," gerutunya di tengah perjalanan panjang kami.

"Adat boleh beda, keyakinan boleh beda, tapi jangan sampai kita terpecah belah. Jangan gara-gara ibumu tak mau kamu menikah dengan orang tak seadat. Kau lalu membeda-bedakannya," kalimat terpanjang yang aku keluarkan selama satu minggu ini.

"Betul San, nyatanya ayah dan bundaku juga beda adat dan daerah. Tapi cinta itu gila, ibu dan ayahku menikah dan punya anak ganteng seperti aku."

Kami tertawa, meski tidak lucu. Namun Yoyo telanjur tertawa, tawanya yang lucu dan khas membuat siapapun yang mendengar ikut tertawa. Kalian pasti juga punya teman seperti Yoyo kan?

Kami sampai di sekolahan tepat waktu. Namun, Kiki menghentikan langkahnya membuat kami semua yang di sana bingung.

"Kenapa kau berhen…," kalimat Zhul terpotong.

Matanya terlalu terkejut untuk melihat bagaimana keadaan sekolah yang kacau saat ini. Hujan angin semalam meruntuhkan dasar pendidikan yang ada di sini, satu-satunya.

"Macam mana pula ini?" logat khasnya mulai keluar.

Anak-anak SD yang telah sampai di sanapun hanya diam. Mereka tidak ambil pusing, karena ini bukan beban mereka. Mereka hanya menuntut haknya untuk mendapat pendidikan yang tinggi.

"Aku rasa tidak mungkin melanjutkan sekolah di sini, lebih baik kita pindah untuk sementara waktu," usul Kiki.

"Meski mereka sudah terlalu minim pendidikan, kita sudah tidak bisa ngajar disini. Lihat kondisinya," namun raut wajah Zhul memerah.

Aku tak mengerti ada apa dengannya. Dia melangkahkan kakinya satu-persatu menginjak tanah basah tanpa rumput, dengan lumpur bekas hujan yang masih menempel di sepatunya.

"Lalu mau kau kemanakan sekolah ini?"

Aku, Yoyo, dan Kiki terkejut tentunya, bahkan kami tidak bertengkar sama sekali saat menjalani program ini. Aku menghampiri Zhul dan menepuk pundaknya perlahan, bermaksud meredakan emosi yang entah muncul darimana.

"Kau kenapa Zhul? Ada salah kita sama kamu?"

Namun Zhul menepis tanganku. Mata bolongnya semakin terlihat marah, sebagian raut wajahnya tertekuk. Menahan beberapa guratan kemarahan di sana.

"Kau mau lari dari tanggung jawabmu? Tugas kita ini mencerdaskan mereka, kau bilang tak masalah apapun suku, ras, golongan, kita ini satu bangsa. Namun hanya karena sekolah roboh kau ingin dipindah tugaskan? Kau tak mau mengajar mereka? Mereka ini sudah tertinggal, janganlah kau kucilkan lagi!" kalimat Zhul terdengar emosional.

Aku paham mungkin hatinya tersakiti atas kalimat Kiki barusan. Pikiranku kosong, aku tidak tahu harus berkata apa saat itu.

"Bukan begitu Zhul, lihat kondisinya saja tidak memungkinkan. Mau ngajar di mana kita?" tanggap Kiki dengan nada serius.

Aku merasakan atmosfer yang lebih tegang di antara Kiki dan Zhul.

"Rumah-rumah di desa ada banyak, mereka tak akan keberatan jika kau pinjam hanya untuk mengajar," matanya memerah, nadanya meninggi, jari telunjuknya baru saja menunjuk kumpulan anak kecil yang tengah duduk berdampingan meratapi bangunan kesayangan mereka yang baru saja runtuh.

"Pantang bagi orang, menang meninggalkan sanak saudaranya. Aku tak bisa membiarkan mereka hidup dalam kebutaan pendidikan Ki. Tak bisa," perlahan pipi Zhul memanas seiring dengan air mata yang telah dibendungnya sedari tadi.

"Bukan maksud aku untuk …," kalimat Kiki terpotong lagi. Zhul mengisyaratkan untuk Kiki lebih baik diam. Sedangkan aku dan Yoyo, kami benar-benar tidak paham harus berbuat apa.

"Memang cuma aku sendiri yang paham dengan keadaan saudara seadatku. Kalian datang kemari cuma terpaksa masalah program itu kan, aku dah tahu itu. Aku jauh-jauh merantau ke tanah Jawa hanya untuk mengenyam pendidikan yang nantinya akan aku bagikan dengan saudaraku yang kurang pengetahuan di sini. Tolong mengertilah aku Ki."

"Aku bisa mendidik mereka tanpa bantuan kalian!" sambungnya sebelum pergi mendahului kami.

Malam itu suasana semakin sunyi, di kamar hanya tersisa aku dan Yoyo. Kiki dan Zhul entah kemana aku kurang tahu. Persahabatan kami hampir goyah, dan gilanya aku hanya menjadi penonton di balik semua keretakan itu.

"Bagaimanapun harusnya kita bisa mendamaikan Kiki dan Zhul, Yo. Kalau begini terus, tidak akan ada yang mengalah, bisa hancur 4 serangkai," gumamku kemudian.

Memang pada dasarnya Yoyo anaknya pendiam dan santun, dia tidak terlalu banyak bicara.

"Mungkin mereka butuh waktu untuk sendiri dulu mas.

Aku melihat raut gelisah di wajah Yoyo, namun pendiamnya itu keterlaluan. Seperti acuh pada kondisi tiang perumahan yang akan runtuh.

"Kamu ini bagaimana si Yo, persahabatan kita ini hampir hancur. Misi kita untuk memajukan pendidikan bangsa saja belum terpenuhi dan kamu memilih membiarkan mereka saling diam? Gila kamu Yo!" aku ikut terbawa emosi.

Memang hal yang menyangkut perasaan itu sangat sensitif.

"Lalu saya harus apa mas?"

Aku memijat keningku perlahan, pusing bicara dengan Yoyo. Tidak akan menyelesaikan masalah. Dia hanya berperan sebagai anak kecil diantara kami.

"Kita ini sudah besar Yo, kita sudah mahasiswa perguruan tinggi. Kita tidak bisa diam aja dalam masalah seperti ini. Mulai berpikir kritis Yo!"

Malam itu kami bertiga memutuskan untuk mengadakan konferensi meja tembus pandang untuk kali pertama. Sepertinya masalah Zhul dan Kiki mendekati level siaga 4. Mau tak mau, aku memaksa Yoyo untuk menjadi pemberani malam ini. Sudah 3 hari kami berdiam diri, tidak melakukan tugas kami yang semestinya. Zhul dan Kiki juga belum berbicara satu sama lain.

"Sepertinya harus ada yang diluruskan di antara kita, " aku membuka rapat konferensi malam itu.

"Berhenti seolah-olah kita ini anak kecil. Kita memang beda, asal kita semua beda, adat beda, semuanya kita berbeda. Selamanya perbedaan itu akan tetap ada."

Semua mulai menatap ke arahku, aku mendapati mata yang merasa bersalah dalam pandanganku.

"Namun itu semua sudah takdir, kita akan beda. Selamanya berbeda. Tapi tidak selamanya perbedaan itu buruk. Kita masih bisa menjadi satu. Kita ini saudara sebangsa, setanah air, dan seperjuangan. Kalau kalian terus mempermasalahkan perbedaan ini, tidak akan ada habisnya. Semuanya sia-sia. Tapi kita masih punya tujuan yang sama memajukan pendidikan di dalam negeri. Tujuan kita tidak akan terwujud, jika kita masih egois satu sama lain. Masih banyak saudara kita yang minim pendidikan di luar sana. Tugas kita masih banyak, apa gunanya pangkat Sarjana Pendidikan jika kita sendiri belum mampu memperbaiki diri? Lalu apa yang akan kita berikan untuk pelajar ke depan nantinya? Aku mohon, kita tidak bisa terus menerus seperti ini," pasrahku akhirnya, mengutarakan apa-apa yang ada dalam relung otakku kemarin malam. Serangkaian kata yang terus terputar dalam benakku akhirnya tercurah.

"Sepertinya kamu harus ganti nama jadi Rian Teguh deh, jangan Rian Hasan," sahut Kiki yang membuat kami semua tertawa. Meski air mata telah tumpah dimana-mana.

“Aku minta maaf, buat kalian semua khususnya Zhul. Aku egois banget saat itu, maafin aku ya."

Aku mendapati adegan romantis antara Zhul dengan Kiki. Zhul menolak jabatan tangan Kiki, dia menepisnya kuat-kuat hingga Kiki meraung kesakitan.

"Hei akukan" kalimat Kiki berhenti sejenak setelah Zhul memeluknya. Mereka erat sekali layaknya saudara. Ya, memang pada nyatanya kami semua saudara.

"Yoyo tidak dipeluk juga ini?" kembali kami tertawa.

Malam itu malam terhangat yang pernah kurasakan saat masih menjadi mahasiswa. Aku merasakan suasana haru nasional. Haha, bercanda. Tapi aku bahagia bisa seperti ini. Aku yang dulunya bermasalah dengan mereka, karena kami berbeda. Kini aku senang, karena kami berbeda. Rasanya satu warna saja tidak cukup untuk menghiasi hari-harimu bukan? Satu warna saja terlalu membosankan dan aku yakin kalian juga akan merasakannya.

Kami mengirim foto robohnya sekolah dasar ini ke pemerintah setempat. Tak lama, seminggu kemudian bantuan dikirim. Bahkan ada Gubernur Sumatera Utara saat itu. Bukannya sombong tapi kami berempat memang masuk koran dan menjadi trending beberapa saat. Kami berhasil mengembangkan minat belajar anak-anak Deli Serdang. Tentunya sekarang aku merasa lega karena Zhul telah resmi menjadi pengajar tetap di sana.

Setelah sebulan lamanya, mau tak mau kami harus berpisah. Rengekan anak-anak terdengar riuh di mana-mana.

"Pak guru main ke sini lagi ya."

"Jangan lupakan kami pak."

Masih banyak pesan-pesan yang belum sempat aku tanggapi. Kami berpisah dengan penduduk desa, dengan anak-anak yang menemani kami sehari-hari.

Hah, bahkan suasananya masih terasa hingga bandara. Keramahan-keramahan itu masih bersandar nyaman dalam ingatanku. Oh ya, satu lagi. Memang banyak sekali suku dan budaya di Indonesia namun mereka memiliki karakter yang sangat menonjol satu sama lain dan memiliki kepribadian yang sama yakni keramahan terhadap orang lain.

Tak heran, Belanda dulu sempat disambut baik oleh orang-orang kami karena memang pada dasarnya kami semua memang ramah.

***

Dering gawaiku terus menggema sedari tadi, menampilkan nama Kiki yang terpajang jelas di layar. Buru-buru aku membalas panggilannya.

"Cepat berangkat! Aku sama Yoyo sudah ada di bandara, nanti telat resepsinya si Zhul," omelnya nyaring dari sana.

Aku tersenyum sejenak, "iya ini sudah mau berangkat."

"Mentang-mentang paling sukses sendiri jadi tidak bisa on time," omel Kiki, lagi.

"Bukan begitu Ki. Sudah ya, aku mau berangkat."

Aku mengakhiri percakapan kami, dan segera mengambil kunci mobilku. Sekarang aku menjadi seorang Dosen di Universitas Negeri Malang, dari Jakarta merantau ke Malang. Mencari warna baru untuk hidupku, sedangkan Yoyo kini menjadi seorang guru tetap di Lampung, dan Kiki berakhir dengan menjadi seorang guru dengan sejuta fans di Surabaya.

Rasanya waktu cepat sekali berlalu, layaknya kali pertama aku dan kawan-kawanku pergi kembali ke tanah minang. Untuk melihat saudara kami yang tengah berbahagia. Persahabatan kami masih baik-baik saja. Kami masih sempat meluangkan waktu untuk sekadar berkumpul. Bukan hanya kaum wanita yang bisa, nyatanya kami juga bisa berkumpul. Kami sering mengisi waktu pertemuan dengan canda tawa dan pengalaman-pengalaman hidup setelah kami berpencar.

Apakah kami tidak pernah lagi bertengkar setelahnya? Salah besar. Tiap pertemuan 80% waktu kami habiskan untuk bertengkar, bertukar argumen, mempertahankan egoisme diri. Kami masih sering berdebat, kami masih sering bertemu dan bertengkar, akan begitu seterusnya. Karena kami berbeda satu sama lain. Karena kami bisa menyatu, satu sama lain.

 

*kadim (3)

n Ar saudara dekat; kerabat (KBBI)


Komentar

×
Berhasil membuat Komentar
×
Komentar anda masih dalam tahap moderator
1000
Karakter tersisa
Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini