CERPEN
Ika Zuliana
Sepotong Senja Di Balik Senyum Bibirku
Senja hari itu ada jingga yang menyelinap di balik dedaunan awan yang samar-samar hilang ditelan malam. Atap-atap rumahku sunyi, pagar besi di luar rumah mulai dingin tak ada siapapun yang membukanya. Usang lama-lama.
Aku sendirian bertemankan televisi yang menyala dengan acara komedi lucu, tapi mulutku bungkam. Hari itu senja adalah pemandangan paling buruk di dunia. Ibu meninggalkan rumah dengan alasan ayah menikah lagi. Hanya dengan segurat senyum simpul di balik kerut bibirnya yang mulai menua, ibu meninggalkanku dengan sorot mata yang sedih dan berkaca-kaca.
Aku masih duduk terdiam di sofa, televisinya tertawa. Menertawakan aku yang sedang sedih. Tanpa diperintah air mataku jatuh satu persatu, dengan isakan yang terus menyumbat di kerongkongan. Aku haus tapi enggan untuk minum, sudah kembung dengan air mata. Siapa yang peduli, bahkan Tuhan enggan bertanya padaku. Apakah aku baik-baik saja? Cih. Takdir memang begitu, dia senang mempermainkan. Banyak yang bilang Tuhan Maha Asyik tapi Dia enggan denganku.
Tanpa kusadari jingga mulai menduduki langit-langit kelam sekitar rumahku. Aku tertidur. Mau tidak mau aku harus bangun dan pergi ke sekolah, kumatikan televisi, dan beranjak pergi. Pagiku hanya berawal dari sepotong roti, dengan selai kacang di atasnya mungkin bahannya sama, tapi rasanya beda. Aku tidak menemukan kasih sayang ibu di sana. Yang aku rasakan hanya roti dengan selai manis yang sesekali mewarnai lidahku, berbeda dengan buatan ibu. Aku menemukan rasa manis dan rasa tagih yang luar biasa, aku tidak bisa menolaknya. Persetan dengan roti selai, aku tidak mau lagi memakannya.
Sekolah dimulai seperti biasa, aku duduk di bangku dan gurunya mengomel tidak jelas. “Hari ini ibu akan membagikan formulir, sebentar lagi kalian akan lulus dari bangku SMA jadi isi sesuai keinginan kalian, kalian akan melanjutkan ke universitas mana dan apa impian kalian.” Aku tersenyum tipis, hatiku mendapatkan amukan rasa perih yang luar biasa, rasanya sesak bahkan mataku mulai panas, entah apa yang membuat pandanganku mulai lebur. Ya, aku menangis kala itu.
Apa boleh, anak dengan keluarga yang hancur dapat mewujudkan impiannya? Itu hanya terdengar seperti omong kosong. Bagi anak yang bernasib sepertiku mimpi hanyalah angan yang tidak dapat ditembus, mimpi hanya membuat kamu terjatuh karena kamu akan berharap nantinya.
“An, kamu mau lanjut kemana?” Tanya Shella, teman karibku ketika kami menerima bakso pesanan kami. Aku menggeleng tidak tahu, bahkan lembaran kertas tadi masih rapi belum tergores pena sedikitpun.
“Kamu enak pintar, mau kemanapun gak masalah.” Ucapnya enteng dengan sesendok bakso besar yang menuju kemulutnya. “Kamu masih mau lanjut jadi dokter.” Sambungnya lagi, lagi-lagi balasanku hanya anggukan.
Dulu memang terdengar menyenangkan, memiliki cita-cita yang ingin diwujudkan, nilai yang membanggakan, bahkan memiliki mimpi terdengar begitu meyakinkan, yakin bisa mewujudkannya. Tapi Anna yang saat ini tidak seperti yang dulu, Anna saat ini tidak memiliki keinginan mewujudkan mimpi, bahkan sedikit sekali keinginan untuk bertahan hidup.
Mirisnya, aku hidup dengan ruh yang kosong. Tidak punya keinginan dan tidak punya tekad. Hampir dua bulan aku hidup seperti ini, persis seperti aku melihat senja untuk terakhir kalinya. Senja adalah kesayangan ibu, kata ibu senja pergi untuk kembali dan senja tidak pernah ingkar seperti ayah. Tapi pada kenyataannya, senja tetap setia sedangkan ayah tidak. Melihat senja seperti menarik diriku sendiri kedalam lubang luka yang hingga kini masih menggerogotiku.
Malam sudah larut, tapi aku masih berdiam diri dengan ritual baruku. Dengan acara komedi yang tayang tiap malam aku mencoba menghibur diriku sendiri, tapi pada nyatanya aku masih asyik sendiri. Aku yang masih asyik sendiri dengan cairan hitam pekat yang sengaja tak kuberi gula dengan perlahan, ada aroma kuat dan pahit yang diam-diam merasuki lidahku. Setiap pahit yang tercipta memberikan kesan tagih yang luar biasa. Sambil sesembari meratapi nasib yang melandaku. Tangan kananku sibuk memegangi formulir yang orang-orang sebut sebagai “mimpi”. Sambil menghela napas aku mencoba berdamai dengan diriku sendiri, tapi ada yang mengetuk pintu rumah. Ada sosok ibu di balik daun pintu. Aku segera mungkin menghampirinya, ibuk memelukku erat, pelukannya hangat, aku senang. Aku melihat guratan senyum di bibirnya, kulit keriputnya terlihat tua bersamaan dengan gigi putihnya yang masih utuh. Aku dan ibu berpelukan cukup lama. Aku merasakan pundaknya bergetar, matanya mulai memanas, bahkan napasnya mulai tidak beraturan, tangannya mendekamku erat-erat. Aku menyimpulkan, Ibu menangis.
Kami duduk, saling diam menatap satu sama lain. Hingga mata ibu bertemu dengan secarik kertas yang mulai kusut, dengan begitu banyak titik-titik didalamnya.
“Itu apa?” tanyanya, tangannya mulai merebut kertas itu. Matanya menilik satu persatu huruf-huruf yang tersusun rapi dalam kertas itu.
“Kenapa belum diisi?” tanyanya, aku mulai jengkel jika Ibu sudah memasang ekspresi seperti itu. Mata belongnya menatapku dengan pekat, tangannya mulai menunjuk kearahku, aku benci pemandangan ini tapi aku rindu ibu.
“Aku tidak punya cita-cita,” jawabku tegas. Tapi suaraku mulai bergetar, andai Ibu tahu pundakku cukup lelah dengan semua ini, jangan membebankan mimpi padaku. Rasanya aku tidak sanggup.
“Bukannya kamu ingin jadi dokter bedah? Itukan mimpi kamu.” Nada ibu mulai meninggi, dan aku sudah tidak bisa membendung perasaan ini. Perasaan ingin berontak, ingin menangis, dan aku ingin menjerit sekencang-kencangnya. Maafkan aku bu, tapi aku benar-benar lelah.
“Memangnya anak semacam aku boleh bermimpi?” Ibu terdiam, seolah memandangiku tidak percaya. Seakan-akan aku bukan anak yang dibesarkannya sejak kecil. Tangannya yang keriput mulai memegangi pundakku yang terlihat kusut.
“Siapapun berhak punya mimpi, siapapun berhak sukses. Tidak ada yang melarang bahkan Tuhan sekalipun.” Aku menatap ibu tidak percaya, aku lupa. Aku masih punya ibu yang harus aku banggakan dan masih ada Tuhan yang setia menemaniku.
Sejak malam itu, Anna harus menjadi Anna yang dulu. Aku tidak bisa terjebak dalam dimensi kesedihan yang terus menerus menyeretku dalam lubang hitam pedihnya kehidupan. Minggu depan ada lomba sains, Bu Rini mengajukan aku dalam olimpiade Biologi. Aku menyanggupinya, meskipun ayah kadang acuh kepadaku tapi masih ada Ibu disisi lain yang siap mendukungku kapanpun aku mau.
Dua tahun sudah berlalu, aku memandangi foto wallpaper layarku. Memandangi diriku yang dulu memegang piala besar dengan predikat juara 1 Olimpiade Sains Biologi tingkat Nasional. Memang benar kata Ibu, tidak ada yang melarang kita punya mimpi, tidak ada yang melarang kita sukses, bahkan Tuhan sekalipun. Hari ini aku berdiri di fakultas kedokteran, seperti apa yang aku impikan dulu. Membuktikan kepada semesta bahwa pada nyatanya akupun bisa punya mimpi dan mewujudkannya.
“An, kelas sudah mau mulai. Ayo!” seru beberapa kawanku. Aku tersenyum. Baiklah aku masih punya banyak mimpi yang harus diwujudkan. Aku masih punya Ibu yang harus aku banggakan, dan Tuhan Yang Maha Kuasa yang setia menemaniku diamanapun dan bagaimanapun keadaanku.
Jadi apakah mimpimu sudah tersusun rapi hari ini? Kamu siap mewujudkannya? Kata-kata yang terus mewarnai kepalaku akhir-akhir ini. Dan begitupun seterusnya. Senja setelah itu terlihat begitu tersenyum menyapaku dia menyambutku dengan warna jingga yang disukai ibu seperti biasanya. Terima kasih senja, telah menemaniku hari tiap harinya.
Komentar
Jadilah yang pertama berkomentar di sini